Hint / petunjuk :
1. Presiden selain pernah menikah punya istri perempuan, juga suka ama cowok
2. Sebelumnya dia seorang pejabat bagian dari sebuah kabinet presiden, kemudian jadi presiden
3. Istri yang kemudian jadi mantan Istri tidak mau sekedar jadi ibu negara dan jadi bagian dari kekuasaan negara dengan memiliki jabatan strategis namun seolah terlihat hubungan keduanya baik, bahkan ketika berpisah mereka masih satu partai.
4. Presiden itu suka ngomong sembarang dan bertindak abusif atas kekuasaan dan seenaknya tidak mengindahkan aturan, kalau ada yang tidak sesuai dengan kemauannya, aturannya dicuekin atau malah aturannya yang diubah, dia tidak memilih yang harusnya dilakukan yaitu mematuhi aturannya.
5. Karena terlalu berkuasa, perwakilan rakyat tidak berani korektif sehingga menjadi Presiden bagai monster tidak terkendali.
6. Para Ajudan / staf terdekatnya pria muda ganteng militer
7. Suka bagi-bagi jabatan dan mendadak bikin organisasi baru supaya orang nurut sama dia
8. Salah satu program janjinya adalah jutaan lapangan pekerjaan
9. Presiden tersebut memiliki hobi olahraga yang sedikit banyak ada hubungannya dengan air
10. karakternya sengaja secara strategis bertindak anti asing
11. Dalam salah satu season, karakter presiden tersebut merasa terancam dengan salah satu Gubernur, sehingga yang dia lakukan adalah membuat kebijakan yang menyulitkan Pemerintahan Gubernur
12. Karakter Presiden diperankan oleh Kevin Spacey
13. Ending nya ngga satisfying banget, rasanya capek aja jadi Warga negara Amerika Serikat yang jadi setting cerita ini, bisa terbesit pikiran kalau nonton serial ini kok hidup gelap banget dan mending jadi warga negara lain aja. Walau di ending nya karakter Kevin Spacey ini tidak eksis lagi, tapi oligarki yang menyambut estafet kepemimpinan dan yang berusaha mendisrupsi tetap sama kotornya dan kondisinya ya tetap seperti itu-itu saja.
#Netflix
#KevinSpacey
Beberapa hint yang saya tuliskan diatas memang sengaja terasa seperti mengajak pembaca berkata, “Lho, kok familiar?”
Frank Underwood awalnya House Majority Whip di Kongres, kemudian menjadi Wakil Presiden lalu Presiden. Netflix Indonesia saat ini masih menampilkan House of Cards lengkap 6 season dan tersedia untuk ditonton/download.
REVIEW JUJUR: HOUSE OF CARDS — KETIKA KEKUASAAN TIDAK LAGI PUNYA REM
⚠️ Spoiler alert sampai Season 6.
Saya baru kepikiran lagi dengan sebuah serial politik yang menurut saya menarik untuk ditonton ulang.
Coba tebak dari petunjuknya.
Presidennya seorang laki-laki, menikah dengan perempuan, tetapi kehidupan seksualnya ternyata tidak sesederhana yang terlihat di depan publik. Dalam serial, Frank Underwood memang digambarkan memiliki ketertarikan dan relasi seksual dengan laki-laki maupun perempuan. (Wikipedia)
Istrinya juga bukan tipe pasangan Presiden yang puas hanya berdiri di samping suami, tersenyum dan melambaikan tangan.
Claire Underwood ingin kekuasaan miliknya sendiri.
Ketika Frank menjadi Presiden, Claire ingin jabatan strategis dan akhirnya menjadi Duta Besar AS untuk PBB—bahkan setelah Senat tidak mengonfirmasinya, Frank menggunakan kewenangannya untuk memberinya jabatan itu. Hubungan mereka kemudian berubah dari pasangan hidup menjadi sesuatu yang jauh lebih menarik: aliansi politik antara dua manusia yang sama-sama lapar kekuasaan. (Vogue)
Dan di sinilah House of Cards menjadi menarik.
Frank Underwood sebenarnya tidak memulai cerita sebagai Presiden.
Ia adalah House Majority Whip, salah satu pimpinan di DPR/Kongres Amerika. Ia dijanjikan jabatan Secretary of State, tetapi janji itu dibatalkan. Dari situlah dia mulai melakukan apa yang menjadi tema besar serial ini:
Kalau aturan tidak memberikan hasil yang saya inginkan, kenapa saya harus tunduk pada aturan?
Bahkan sinopsis episode pertama Netflix sendiri menggambarkan Frank dan Claire sebagai pasangan yang, setelah dikhianati Presiden terpilih, memutuskan meninggalkan loyalitas mereka dan mengabaikan aturan permainan. (Netflix)
Dari anggota Kongres, Frank bermanuver menjadi Wakil Presiden.
Lalu Presiden.
Bukan karena rakyat sejak awal memilihnya untuk menjadi Presiden.
Tetapi karena ia tahu tombol mana yang harus ditekan, siapa yang harus diberi sesuatu, siapa yang harus diancam, informasi apa yang harus dibocorkan, jabatan apa yang harus ditawarkan, dan aturan apa yang harus dibengkokkan.
Kevin Spacey memainkan Frank dengan sangat meyakinkan sampai penonton kadang dibuat lupa:
kita sebenarnya sedang mengikuti perjalanan seorang villain.
Frank sering berbicara seenaknya, manipulatif, abusif terhadap kekuasaan, dan melihat aturan bukan sebagai batas kekuasaan tetapi sebagai hambatan yang harus dicari jalan keluarnya.
Ketika lembaga-lembaga politik tidak cukup kuat mengontrolnya, Presiden bukan lagi sekadar pemegang kekuasaan.
Ia mulai berubah menjadi kekuasaan itu sendiri.
Dan menurut saya, justru inilah bagian terbaik House of Cards.
Serial ini bukan cuma bercerita tentang Presiden jahat.
Ia bercerita tentang institusi yang perlahan berhenti berani berkata tidak kepada Presiden.
Karena monster politik hampir tidak pernah lahir sendirian.
Ia tumbuh karena ada orang yang membutuhkan jabatan.
Ada yang takut kehilangan posisi.
Ada yang memilih diam.
Ada yang tahu sesuatu salah tetapi mengatakan:
“Ya sudahlah, yang penting saya aman.”
Ada pula orang-orang loyal di sekeliling Presiden. Salah satu yang paling memorable adalah Edward Meechum, anggota Secret Service yang sangat dekat dengan Frank dan Claire—kedekatan yang bahkan melampaui relasi Presiden dan pengawalnya. (Wikipedia)
Lalu ada janji politik besar bernama America Works.
Program ambisius Frank untuk menciptakan jutaan pekerjaan dengan merombak mekanisme pembiayaan pemerintah. Program itu menjadi salah satu pusat cerita Season 3. (Vogue)
Frank pun mempunyai hobi yang cukup ikonik:
rowing machine.
Jadi secara teknis memang tidak sedang main air, tetapi olahraga pilihannya tetap berasal dari aktivitas mendayung. 😆
Lalu ada nasionalisme, ancaman asing, terorisme, perang, ketakutan publik dan segala perangkat yang bisa digunakan untuk mengonsolidasikan kekuasaan.
Yang paling menyeramkan adalah ketika Frank merasa kekuasaannya terancam.
Lawan politik tidak lagi dipandang sebagai kompetitor demokratis.
Ia dipandang sebagai masalah yang harus disingkirkan.
Will Conway, Gubernur New York yang menjadi rival dalam pemilihan Presiden, misalnya, berkembang menjadi ancaman serius terhadap Frank. Pada Season 5, manipulasi politik bahkan merambah proses pemilu dan hubungan Presiden dengan negara-negara bagian. (Wikipedia)
Dan lama-lama kita sebagai penonton mulai capek.
Karena setiap kali berpikir:
“Nah, sekarang pasti ketahuan.”
Tidak.
Ada manuver lagi.
“Sekarang pasti jatuh.”
Belum.
Ada orang lain yang dikorbankan.
“Sekarang institusinya pasti melawan.”
Eh… ternyata ada transaksi baru lagi.
🤣
A. TAHUN BERAPA SERIAL INI TAYANG?
House of Cards pertama kali tayang 1 Februari 2013 dan berakhir pada 2 November 2018.
Totalnya 6 season, 73 episode. Season 1–5 masing-masing berisi 13 episode; Season 6 hanya 8 episode. (Wikipedia)
B. JUDULNYA?
Tentu saja:
🎬 HOUSE OF CARDS
Nama yang menurut saya sangat tepat.
Karena seluruh bangunan kekuasaan dalam serial ini tampak megah dari luar…
tetapi sebenarnya berdiri seperti rumah dari kartu.
Satu kartu dicabut, semuanya bisa roboh.
Masalahnya, semua orang sibuk memastikan kartu miliknya sendiri jangan sampai ikut jatuh.
C. MASIH ADA DI NETFLIX?
Per 16 Agustus 2026, iya.
Saya cek langsung katalog Netflix Indonesia. Halaman resminya masih menampilkan House of Cards — 6 Season, lengkap dengan episode, trailer, subtitle Bahasa Indonesia, dan opsi download. (Netflix)
Jadi bukan sekadar masih ada halaman arsipnya; serialnya memang masih ditawarkan di katalog Indonesia saat ini.
D. SETELAH MEMBACA HINT DI ATAS, MAUKAH MENONTON 5 SEASON-NYA WEEKEND INI?
Kalau belum pernah nonton?
Saya akan bilang: iya.
Tapi jangan benar-benar mencoba menghabiskan Season 1–5 dalam satu weekend. 🤣
Itu 65 episode. (Wikipedia)
Yang menurut saya paling kuat justru Season 1–2.
Di situ Frank belum sepenuhnya berada di puncak kekuasaan sehingga kita melihat bagaimana kekuasaan dibangun: lewat kompromi, patronase, informasi, media, jabatan, loyalitas, transaksi dan intimidasi.
Season 3–5 berbeda.
Pertanyaannya berubah dari:
“Bagaimana seseorang mendapatkan kekuasaan?”
menjadi:
“Apa yang dilakukan seseorang ketika sudah memiliki kekuasaan dan takut kehilangannya?”
Dan menurut saya pertanyaan kedua jauh lebih relevan untuk pendidikan politik.
Season 6?
Saya akan tonton kalau sudah terlanjur investasi emosional lima season. 😆
Kevin Spacey tidak lagi tampil sebagai Frank Underwood pada season terakhir, dan cerita beralih kepada Claire. Season 6 sendiri memang menerima respons yang lebih campur-aduk; absennya Spacey dan penyelesaian cerita menjadi salah satu sumber kekecewaan. (Wikipedia)
Saya termasuk yang merasa ending-nya tidak satisfying.
Setelah mengikuti puluhan jam intrik, kita berharap akan terjadi semacam reset moral.
Ternyata tidak.
Frank hilang.
Tetapi permainan kekuasaan tidak hilang.
Claire naik.
Kelompok kepentingan lain masuk.
Elite bisnis, keluarga berpengaruh, aparat, politisi dan orang-orang yang ingin mengendalikan Presiden tetap bermain.
Seolah serial ini mengatakan:
masalah sebuah negara ternyata bukan cuma siapa Presidennya.
Kalau ekosistem kekuasaannya tetap transaksional, mengganti satu orang belum tentu mengganti permainannya.
Dan sebagai penonton, rasanya:
“Ya ampun… capek juga jadi warga negara Amerika Serikat versi House of Cards.” 😅
Gelap sekali dunianya.
E. LALU APA YANG BISA DIPELAJARI KITA SEBAGAI VOTERS?
Ini justru bagian paling penting.
House of Cards menurut saya bukan buku panduan politik. Ia hiperbolis, sinis dan dramatis.
Tetapi ada satu pelajaran demokrasi yang sangat kuat:
Jangan pernah menyerahkan penilaian politik hanya kepada kekaguman terhadap seorang tokoh.
Pemilih yang matang tidak hanya bertanya:
“Saya suka orang ini atau tidak?”
Tetapi:
Apakah ia menghormati aturan ketika aturan itu tidak menguntungkannya?
Karena karakter seorang pemimpin justru terlihat ketika hukum, prosedur atau institusi mengatakan:
“Tidak.”
Apakah jawabannya:
“Baik, saya patuhi.”
atau:
“Kalau begitu aturannya kita ubah.”
Kita juga perlu bertanya:
Apakah parlemen masih berani mengoreksi pemerintah?
Apakah orang-orang yang mendapat jabatan memang kompeten atau terutama karena loyal?
Apakah lembaga baru dibentuk karena benar-benar dibutuhkan negara atau sekadar menciptakan posisi dan pusat kekuasaan baru?
Apakah janji jutaan lapangan pekerjaan memiliki desain kebijakan yang masuk akal atau hanya angka yang indah untuk kampanye?
Apakah ancaman asing dibicarakan berdasarkan kepentingan nasional atau dimanfaatkan untuk membangkitkan rasa takut?
Apakah kepala daerah yang berbeda pilihan politik tetap diperlakukan adil?
Dan mungkin pertanyaan terpenting:
Kalau pemimpin yang kita dukung melanggar prinsip yang dulu kita bela, apakah kita masih berani mengkritiknya?
Itulah kematangan politik.
Bukan seberapa keras kita membela pilihan kita.
Tetapi seberapa berani kita mengatakan:
“Saya memilih Anda, tetapi saya tidak menyerahkan akal sehat saya kepada Anda.”
Karena demokrasi yang sehat tidak membutuhkan warga yang menjadi fans.
Demokrasi membutuhkan voters yang tetap kritis bahkan kepada orang yang mereka pilih sendiri.
Pemimpin boleh berganti.
Partai boleh berganti.
Koalisi boleh berganti.
Tetapi satu prinsip seharusnya tidak berubah:
Tidak boleh ada seorang pun yang lebih besar daripada institusi, hukum dan negara.
Mungkin itu pelajaran terbesar yang saya dapat setelah menonton House of Cards.
Dan kalau setelah membaca semua hint di atas Anda merasa:
“Kok ceritanya terasa familiar ya?”
Saya cuma bisa bilang…
House of Cards ini mulai tayang tahun 2013. 😌
Sisanya silakan direnungkan sendiri.
#Netflix
#KevinSpacey
#HouseOfCards
#PoliticalDrama
#Politik
#Demokrasi
#Voters