Kesalahan lain adalah menganggap Pengadaan Berkelanjutan baru dimulai ketika proses pemilihan Penyedia berlangsung.
Padahal justru keputusan terpenting sering dibuat jauh sebelumnya.
Apakah barang tersebut benar-benar perlu dibeli?
Berapa jumlah yang sebenarnya diperlukan?
Berapa lama barang akan digunakan?
Apakah lebih tepat membeli, menyewa, menggunakan barang yang sudah tersedia, melakukan konsolidasi, atau menggunakan alternatif lainnya?
Apakah spesifikasi yang disusun terlalu rendah sehingga menghasilkan barang murah tetapi cepat rusak?
Atau justru terlalu tinggi sehingga membatasi persaingan dan menghasilkan biaya yang tidak diperlukan?
Apakah produk dalam negeri dapat memenuhi kebutuhan?
Apakah UMK dan koperasi mempunyai kesempatan?
Apakah terdapat dampak lingkungan yang dapat dikurangi?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut pada dasarnya merupakan pertanyaan pengadaan strategis.
Karena itu, kualitas Pengadaan Berkelanjutan sangat bergantung pada kualitas perencanaan.
Jika identifikasi kebutuhan hanya dilakukan dengan menyalin spesifikasi tahun sebelumnya, kemudian HPS disusun sekadar untuk memenuhi dokumen, dan keberhasilan baru diukur berdasarkan besarnya selisih antara HPS dengan harga kontrak, maka value for money akan sulit tercapai.
file 00000000a7cc8206b898b861aaadec20