Transformasi yang diperlukan pada akhirnya bukan menghapus pertanyaan tentang harga.
Pertanyaannya justru perlu diperluas.
Bukan hanya:
“Berapa murah kita mendapatkannya?”
Tetapi juga:
“Apa yang sebenarnya diperoleh pemerintah dari uang yang dibelanjakan?”
Apakah barangnya tepat?
Apakah kualitasnya sesuai kebutuhan?
Apakah jumlahnya tepat?
Apakah tersedia pada waktu dan lokasi yang dibutuhkan?
Apakah Penyedianya mampu melaksanakan kewajibannya?
Apakah biaya yang dibayar wajar?
Apakah produk tersebut memberikan manfaat selama masa penggunaannya?
Apakah pengadaan memberikan kontribusi terhadap Produk Dalam Negeri, UMK, koperasi, lingkungan, masyarakat, tata kelola, dan perekonomian?
Ketika pertanyaan-pertanyaan tersebut mulai menjadi bagian dari proses pengadaan, barulah pengadaan bergerak dari kegiatan transaksional menuju fungsi strategis.
Tantangan Terbesar Bukan Lagi Regulasi
Jika melihat perkembangan Perpres Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah sejak 2018 hingga perubahan terakhir melalui Perpres Nomor 46 Tahun 2025, sebenarnya arah kebijakannya semakin jelas.
Pengadaan pemerintah bukan semata-mata aktivitas mendapatkan barang dan jasa.
Pengadaan merupakan instrumen untuk menciptakan manfaat ekonomi, sosial, lingkungan, dan institusional melalui belanja pemerintah.
Karena itu, tantangan terbesar Pengadaan Berkelanjutan di Indonesia mungkin bukan lagi sekadar ketiadaan regulasi.
Tantangannya adalah bagaimana menerjemahkan paradigma tersebut menjadi keputusan pengadaan sehari-hari yang tetap profesional, kompetitif, efisien, objektif, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Kita memang harus tetap waspada terhadap harga yang tidak wajar, pemborosan, pengaturan spesifikasi, konflik kepentingan, dan berbagai bentuk penyimpangan lainnya.
Namun kewaspadaan tersebut semestinya menghasilkan dokumentasi dan proses pengambilan keputusan yang semakin baik, bukan menyederhanakan seluruh pengadaan menjadi perlombaan mendapatkan harga yang paling rendah.
Sebab pada akhirnya, pertanggungjawaban pengadaan pemerintah seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan:
“Apakah kita sudah membeli dengan murah?”
Pertanyaan yang lebih substantif adalah:
“Apakah setiap rupiah yang kita belanjakan benar-benar menghasilkan nilai manfaat yang seharusnya?”
Dan mungkin justru di sanalah makna sesungguhnya dari value for money serta Pengadaan Berkelanjutan.
12c5f495 9a06 41f4 b4ac 047cd3a45cde