file 00000000164481fa917cb6012fab7d01
file 00000000164481fa917cb6012fab7d01

Ketika Tiga Hutan Hujan Dunia Menghadapi “Godzilla El Niño”

Hutan hujan tropis dunia dapat dibayangkan memiliki tiga bentang utama: Amazon di Amerika Selatan, Cekungan Kongo di Afrika, serta hutan tropis Asia Tenggara yang mencakup Indonesia. Ketiganya bukan sekadar kumpulan pohon. Mereka menyimpan karbon dalam jumlah sangat besar, mendaur ulang air ke atmosfer, memengaruhi pembentukan hujan, dan membantu menjaga kestabilan sistem iklim bumi. Penelitian bahkan menunjukkan bahwa hilangnya hutan tropis dapat secara langsung mengurangi curah hujan di wilayah sekitarnya. (nature.com)

Pertanyaannya, apakah ketiga “mesin iklim” ini masih bekerja?

Jawabannya: ya, tetapi tidak semuanya bekerja dengan kekuatan dan ketahanan yang sama seperti sebelumnya.

Amazon memberikan salah satu sinyal paling jelas. Penelitian jangka panjang menunjukkan bahwa kemampuan hutan Amazon menyerap karbon telah menurun selama beberapa dekade. (nature.com) Ketika El Niño sangat kuat pada 2015–2016 membawa panas dan kekeringan ekstrem, pengamatan terhadap 123 plot hutan Amerika Selatan menemukan bahwa fungsi hutan sebagai penyerap karbon praktis berhenti selama periode tersebut. (nature.com)

Afrika memberikan gambaran yang sedikit berbeda. Hutan tropis Afrika, termasuk kawasan Kongo, menunjukkan ketahanan yang relatif lebih besar terhadap anomali iklim 2015–2016. Hutan-hutan yang diteliti mengalami tekanan panas dan kekeringan, tetapi secara keseluruhan masih mempertahankan fungsi pentingnya sebagai penyimpan karbon. (pnas.org)

Bagaimana dengan Indonesia?

Di sinilah hubungan dengan El Niño menjadi sangat nyata. Saat El Niño kuat terjadi, pola sirkulasi atmosfer tropis berubah dan sebagian wilayah Indonesia dapat mengalami kondisi jauh lebih kering. Pada 2015, kekeringan memperburuk kebakaran di Sumatra dan Kalimantan, termasuk pada lahan gambut yang telah dikeringkan dan terdegradasi. (nasa.gov)

Istilah “Godzilla El Niño” memang merupakan julukan populer, bukan kategori ilmiah resmi. Namun istilah tersebut cukup tepat untuk menggambarkan bagaimana El Niño yang sangat kuat dapat menjadi semacam stress test bagi hutan hujan tropis dunia.

Hutan yang masih utuh mempunyai cadangan ketahanan. Vegetasinya membantu mempertahankan kelembapan, menyimpan karbon, mengatur air, dan memberi kesempatan ekosistem untuk pulih setelah kekeringan. Sebaliknya, hutan yang telah terfragmentasi, dibuka, dikeringkan, dibakar atau diubah fungsi lahannya memasuki periode El Niño dengan daya tahan yang jauh lebih kecil.

Di sinilah kita perlu jujur melihat persoalannya.

Alam tidak sampai pada kondisi ini dengan sendirinya.

Sebagian besar perubahan bentang alam terjadi karena manusia ingin memperoleh sesuatu darinya: kayu, tambang, perkebunan, pangan, energi, permukiman dan infrastruktur.

Di Indonesia dan Asia Tenggara, persoalan ini juga tidak dapat dilepaskan dari ekspansi perkebunan kelapa sawit, terutama ketika kebun dibangun dengan mengkonversi hutan alam atau membuka dan mengeringkan lahan gambut.

Kelapa sawit sendiri adalah komoditas. Persoalan ekologis muncul ketika untuk menghasilkan komoditas tersebut kita mengubah ekosistem yang sebelumnya memiliki fungsi jauh lebih kompleks.

Hutan hujan bukan sekadar kumpulan batang pohon.

Ia memiliki tajuk berlapis, akar yang dalam, tanah yang menyimpan air, keanekaragaman hayati, mikroorganisme, serta mekanisme evapotranspirasi yang membantu mengembalikan air ke atmosfer.

Ketika hutan alam diganti menjadi perkebunan monokultur, bentang lahannya mungkin masih terlihat hijau dari kejauhan.

Namun “hijau” tidak selalu berarti memiliki fungsi ekologis yang sama dengan hutan.

Hal yang sama menjadi lebih serius pada lahan gambut. Gambut menyimpan karbon dalam jumlah sangat besar selama ratusan bahkan ribuan tahun. Ketika gambut dikeringkan agar dapat digunakan untuk perkebunan, muka air tanah turun dan lapisan gambut menjadi lebih mudah terbakar.

Lalu datang El Niño.

Musim kering menjadi lebih panjang dan lebih berat.

Gambut yang telah dikeringkan semakin kering.

Api menjadi lebih mudah menyala dan dapat menjalar di bawah permukaan tanah.

Karbon yang sebelumnya tersimpan kemudian dilepaskan kembali ke atmosfer.

Di titik inilah sebuah fenomena alam bertemu dengan keputusan manusia.

El Niño tidak membuka hutan. El Niño tidak menggali kanal gambut. El Niño tidak memberikan izin perkebunan. El Niño tidak menentukan pola konsumsi kita.

Manusialah yang melakukan semua itu.

Karena itu, ketika kekeringan berubah menjadi kebakaran besar, kita tidak cukup hanya mengatakan bahwa penyebabnya adalah “El Niño”.

El Niño dapat menjadi pemicu.

Tetapi kondisi bentang alam menentukan seberapa besar konsekuensinya.

Kita semua yang menikmati hasil dari sistem ekonomi tersebut memiliki bagian dalam tanggung jawabnya, meskipun besar tanggung jawab setiap pihak tentu tidak sama. Pemerintah yang menentukan kebijakan dan tata ruang, perusahaan yang membuka lahan dalam skala besar, lembaga keuangan yang menyediakan modal, rantai perdagangan yang membeli komoditas, hingga konsumen yang menikmati produknya berada dalam satu sistem yang saling terhubung.

Karena itu persoalannya bukan sekadar siapa yang menebang pohon terakhir.

Pertanyaannya juga: siapa yang memberikan izin, siapa yang membiayai, siapa yang memperoleh keuntungan, siapa yang menciptakan permintaan, dan siapa yang menikmati hasil akhirnya?

Ini juga bukan berarti bahwa seluruh perkebunan kelapa sawit harus dipandang sama. Sawit memiliki peran ekonomi yang nyata dan menjadi sumber penghidupan bagi banyak masyarakat. Justru karena itu tantangannya bukan sekadar memilih antara ekonomi atau lingkungan.

Tantangannya adalah memastikan bahwa pembangunan ekonomi tidak terus bergantung pada penghancuran ekosistem yang menopang kehidupan kita sendiri.

Produktivitas dapat ditingkatkan tanpa harus terus membuka hutan baru. Lahan yang sudah terdegradasi dapat diprioritaskan. Gambut dapat dilindungi. Rantai pasok dapat dibuat lebih transparan. Dan kawasan hutan yang masih utuh perlu diperlakukan sebagai infrastruktur ekologis, bukan sekadar cadangan lahan yang menunggu untuk dieksploitasi.

Sebab hutan memiliki pekerjaan yang tidak terlihat dalam neraca keuangan perusahaan.

Ia menyimpan karbon.

Ia memompa air ke atmosfer.

Ia membantu membentuk hujan.

Ia menjaga tanah.

Ia menahan panas.

Dan ia memberi ruang bagi kehidupan.

Godzilla El Niño mengingatkan kita bahwa ketika alam mendapat tekanan ekstrem, kita baru menyadari betapa pentingnya fungsi-fungsi tersebut.

Amazon, Kongo dan hutan tropis Asia Tenggara masih bekerja sebagai penyangga kehidupan bumi. Tetapi mereka seperti tiga benteng besar yang terus menerima tekanan.

Jika kita terus mengambil manfaat dari alam tanpa memberi ruang bagi alam untuk memulihkan dirinya, suatu hari pertanyaannya mungkin bukan lagi apakah hutan mampu bertahan menghadapi “Godzilla El Niño”.

Pertanyaannya menjadi jauh lebih personal:

ketika alam tidak lagi mampu melindungi kita seperti sebelumnya, apakah kita siap mengakui bahwa cara kita mengeksploitasi alam ikut membuatnya kehilangan kemampuan itu?

Menjaga hutan karena itu bukan semata persoalan konservasi.

Ia adalah persoalan tanggung jawab.

Sebab manusia tidak mungkin terus meminta alam menopang kehidupan kita, sementara pada saat yang sama kita terus mengurangi kemampuan alam untuk melakukannya

Sebelumnya Dibalik Layar Klinik Sertifikasi CPOF/CPSP 19 Agustus 2026

Cek Juga

file 00000000589062308e3ecb50849f17f8

Adaptif vs Akomodatif

Harap bisa dibedakan antara adaptif (yang ada dalam core value berakhlak) dengan akomodatif…   Ketika ...

Punya pendapat terkait artikel ini? mohon berkenan berdiskusi, terima kasih

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Open chat
1
Hubungi saya
Halo, apa yang bisa saya bantu?