Di lokasi pekerjaan itu, saya tiba dengan satu asumsi:
yang kami periksa bukan bangunan masa depan, melainkan prestasi hari ini.
Bangunan di depan mata tampak seperti rumah Doraemon—
rapi, futuristik, seolah sebentar lagi Nobita akan keluar sambil mengeluh soal PR.
Dari kejauhan, siapa pun akan berkata: ini sudah jadi.
Namun saya tidak bekerja di dunia manga.
Saya bekerja di dunia kontrak.
Saya mulai berkeliling, seperti membuka satu per satu kantong ajaib.
Kamar mandi.
Kloset belum terpasang.
Barangnya ada, fungsinya belum.
Dalam logika Doraemon, ini wajar: alatnya masih di kantong.
Dalam logika kontrak, ini sederhana: belum terwujud.
Instalasi listrik.
Beberapa titik belum terhubung.
Kalau Doraemon datang hari ini, alat-alatnya belum bisa dipakai—
bukan karena teknologinya canggih, tapi karena stop kontaknya belum ada.
Finishing.
Di sinilah kesalahpahaman sering muncul.
Bukan soal rapi atau tidak rapi—
beberapa elemen memang belum lahir ke dunia fisik.
Di titik ini saya teringat satu hal penting:
tidak satu pun gambar kerja mencantumkan Mesin Waktu sebagai item pekerjaan.
Padahal, di banyak proyek, Mesin Waktu seolah dianggap tersedia:
-
kekurangan hari ini akan dikerjakan “nanti”,
-
volume yang belum ada diasumsikan akan muncul di masa depan.
Masalahnya, kontrak tidak bisa naik Mesin Waktu.
Kontrak hanya berjalan maju.
Satu hari berlalu, tidak bisa diulang.
Tidak bisa di-reset seperti Nobita yang salah langkah lalu minta tolong Doraemon.
Ketika progres dihitung apa adanya, angkanya berhenti di 85%.
Sisa 15% itu bukan detail kecil.
Itu bukan panel yang terlupa.
Itu adalah bagian bangunan yang belum pernah ada.
Dalam dunia Doraemon, masa depan bisa dipinjam.
Dalam dunia pengadaan, masa depan tidak boleh digunakan sebagai jaminan.
Saya membayangkan sejenak—
jika kita benar-benar naik Mesin Waktu ke akhir kontrak,
dan kondisi masih seperti hari ini.
Di sana, tidak ada dialog.
Tidak ada alasan.
Yang ada hanya satu kesimpulan administratif: keterlambatan.
Dan keterlambatan tidak peduli apakah penyedia bekerja keras atau berniat baik.
Ia hanya membaca tanggal.
Kami kembali ke hari ini—
waktu yang masih bisa diperbaiki tanpa Mesin Waktu.
Pilihan akhirnya jelas:
bukan memaksa PHO,
melainkan mengubah 15% yang belum ada menjadi nyata.
Penyedia memilih lembur.
Keputusan itu bukan heroik seperti Doraemon,
tapi jauh lebih penting.
Karena di dunia pengadaan,
Doraemon memang tidak ikut tanda tangan kontrak—
tetapi konsekuensi selalu hadir tepat waktu.