24f76f9c 57a2 4f82 b5a4 8ecc28aceab6
24f76f9c 57a2 4f82 b5a4 8ecc28aceab6

Tidak menggunakan Laptop untuk bekerja, apa bisa?

Kali ini tidak berbicara tentang Pemerintahan dan tidak berbicara tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, tapi berbicara tentang Perangkat Daily Driver yang saya gunakan sehari-hari. Tentu saja ini bukan artikel yang di-endorsed, jadi boleh dibilang sebagai artikel untuk dijadikan referensi untuk tidak menggunakan laptop ya bisa-bisa saja, terutama jika workflow anda sehari-hari menyerupai saya.

Mari kita mulai dengan menceritakan perangkat dalam workflow saya sehari-hari, saya adalah pekerja kantoran yang menggunakan Microsoft Office sehari-harinya, kemudian karena kesibukan lain-lain saya juga menggunakan produk untuk rapat daring seperti Zoom dan Microsoft Team, saya memiliki beberapa ruangan kerja di kantor, kebetulan kantor menyediakan PC All in One (AIO) berbasis Windows di tiap ruangan, dari 2 PC AIO itu menggunakan sistem operasi Windows 10 dan satunya lagi Windows 11, Kantor saya juga berbaik hati memberikan komputer jinjing Ultrabook untuk saya gunakan ketika presentasi dan bekerja di ruangan berbeda/rapat, dalam posisi ini saya menggunakan Ultrabook berbasis Windows 11.

Untuk Perangkat Pribadi saya menggunakan 1 ponsel pintar untuk komunikasi pekerjaan, 1 ponsel pintar yang khusus untuk memotret, dan 1 ponsel pintar untuk kepentingan pribadi khususnya dijadikan personal hotspot dadakan, dari aspek wearable saya menggunakan perangkat smartwatch, rata-rata untuk perangkat pribadi saya sudah relatif “usang”, sudah berumur hampir 7 tahun dan hanya 1 yang baru berumur 1 tahun.

Paparan diatas mencerminkan bahwa saya relatif beruntung karena kantor sudah memberikan fasilitas yang cukup dan perangkat pribadi ponsel pintar saya relatif “jadul” walau performanya masih relevan dan masih memperoleh pembaharuan dari produsen nya, sehingga perangkat pribadi saya cukup efektif untuk digunakan saat ini. Kemudian saya menggunakan Headphone in-ear bluetooth yang memiliki noise canceling bila saya berada dilingkungan ruangan yang relatif bising

Saya mengkategorikan perangkat yang saya gunakan menjadi dua klasifikasi yaitu :

  • Mobile (bergerak)
    • Ponsel Kerja
    • Ponsel untuk memotret
    • Ponsel cadangan
    • Ultrabook PC
    • Headphone.
  • Stationary (berada pada satu lokasi saja)
    • PC AIO Ruang 1
    • PC AIO Ruang 2

Karena saya menggunakan perangkat yang relatif banyak, untuk workflow saya sebagai hub utama saya menggunakan layanan Microsoft 365 yang memberikan layanan cloud storage dengan kapasitas 1TB, sehari-hari saya mencatat laporan harian pekerjaan saya menggunakan Microsoft Excel yang filenya disimpan di Cloud Storage dan bisa diakses menggunakan lintas perangkat, demikian juga untuk menggunakan Microsoft Word dan Microsoft Powerpoint, ketika pekerjaan saya tidak sempat saya selesaikan maka saya cukup tutup aplikasi, dan ketika saya kembali ke perangkat yang berbeda maka pekerjaan saya sudah tersinkronisasi, dan saya bisa beralih dari pekerjaan yang saya kerjakan dari perangkat mobile ke perangkat stationary dan sebaliknya.

Saya biasanya menggunakan kedua perangkat untuk bekerja pekerjaan sehari-hari dan kemudian mengerjakan materi mengajar diluaran, membuat podcast, dan membuat video, sebelumnya ketika saya menggunakan perangkat eksisting yang ada, saya berusaha kreatif dengan memanfaatkan resource yang ada, untuk transfer antar dokumen selain menggunakan Onedrive saya juga menggunakan Whatsapp Desktop, untuk kamera yang kebetulan tidak beresolusi tinggi di PC AIO maupun Ultrabook saya, terkadang saya menggunakan kamera belakang kedua ponsel saya, Foto yang saya ambil dengan kamera ponsel saya kirimkan via email/cloud storage, kemudian ketika saya membutuhkan Personal Hotspot, saya menyalakan fitur tersebut secara manual dari ponsel saya.

Pada dasarnya pekerjaan saya relatif ringan, namun memerlukan kecepatan karena saya perlu berpindah dari satu bidang pekerjaan ke bidang pekerjaan lainnya dalam satu hari yang sama, sehingga transisi yang mulus alias seamless menjadi hal yang penting, terkadang karena alasan interoperatibilitas saya harus menunggu antara titik stationary satu ke titik lainnya, sehingga PC AIO saya yang ketika terlalu lama menyala sudah terlalu penuh cache menjadi lambat dan harus saya restart, saya juga terkadang mendapati Ultrabook saya yang menggunakan OS Windows juga ternyata tidak sepenuhnya dalam state Sleep ketika masuk dalam tas, dan jadinya ketika dibuka maka baterainya sudah habis dan dalam kondisi panas, anehnya kondisi ini sifatnya random dan secara pengaturan sebenarnya sudah dirancang untuk Sleep.

Saya adalah pengguna iPad dan Macbook, namun karena pekerjaan saya sangat intens untuk Office, maka sebenarnya sejak tahun 2013 saya sudah tidak menggunakan ekosistem Apple selain di perangkat ponsel dan wearable saja. Baru-baru ini saya menggunakan Headphone yang terintegrasi dengan ekosistem iCloud milik Apple, saya sedikit takjub setelah lama tidak menggunakan perangkat selain ponsel dengan melihat Headphone yang dapat terintegrasi di ekosistem iCloud, saya membeli produk ini pun juga baru di tahun 2020, karena kebutuhan untuk melakukan ujian yang mengharuskan saya untuk melakukan presentasi, pada saat itu saya membutuhkan perangkat untuk presentasi menjalankan Powepoint ke layar (tidak melakukan screensharing), ponsel kamera dengan resolusi yang baik via Zoom, namun ponsel tersebut juga perlu kemampuan prosesor yang baik untuk juga merelay gambar ke perangkat lain dengan layar yang lebih besar agar saya bisa melihat peserta Zoom saya dan juga karena jarak yang cukup jauh saya dan ponsel maka saya membutuhkan perangkat headset bluetooth yang memiliki versi radio yang lebih tinggi dan stabil.

Kebetulan ponsel yang saya jadikan perangkat utama tahun lalu memiliki masalah dimana Optical Image Stabilizer nya kurang baik dan bergetar-getar. Baterai nya pun juga sudah 60% dari kondisi seharusnya, jadi akhirnya saya membeli Ponsel Mid-End dengan perangkat-perangkat seperti Headset Bluetooth yang terintegrasi dengan iCloud, ketika saya menggunakan perangkat ini saya lumayan takjub bahwa ketika saya mau beralih dari satu ponsel ke ponsel lainnya, perangkat ini ketika terdeteksi terpasang dikuping saya dan ponsel yang saya pegang ternyata mendeteksi otomatis secara seamless. Kemudian komunikasi data secara nirkabel antar ponsel juga relatif mudah, saya lantas berpikir untuk menggunakan komputer dengan ekosistem yang sama.

Saya sempat menggunakan salah satu perangkat Ultrabook dalam satu ekosistem yang sama yang dapat dipinjam untuk menguji betapa seamless dari satu perangkat ke perangkat lain untuk bekerja, beberapa kekecewaan saya adalah :

  • kualitas kamera yang rada payah, bahkan bila dibandingkan dengan ponsel saya yang kategorinya mid-end, walau dibandingkan dengan perangkat yang eksisting diantara para pejuang rapat online terlihat lebih bagus, tapi posisinya bagi pengajar yang senang sekali menunjukkan kekurangan kualitas wajah saya secara gamblang secara daring, kualitas ini tidak memenuhi kriteria saya, disisi lain bila menggunakan ponsel untuk rapat daring juga kurang mantap.
  • Kekuatan baterai yang relatif bagus, namun tidak all day untuk digunakan bekerja.
  • Kalau beli secara pribadi, ultrabook ini muahal.
  • Belum touchscreen seperti Laptop Ultrabook kantor/AIO kantor.
  • Walau nyaman dimata karena layarnya bagus, tapi bentuknya tidak portabel untuk konsumsi media.
  • Relatif cepat panas.

Sisi yang tidak saya pungkiri saya sukai adalah :

  • ringan;
  • seamless alias mulus dalam bertukar data dan kompatibel dalam satu ekosistem dengan perangkat lain, bila saya mau kirim data saya ngga perlu kirim, cukup klik copy atau cmd-c dan kalau di paste di ponsel saya sudah terkoneksi dalam satu clipboard yang sama.
  • cepat;
  • ketika ada telepon masuk, langsung menotifikasi saya, hal yang saya sukai ketika panggilan masuk bukan sekedar telpon biasa, tapi Facetime Video Call, saya tidak perlu menggapai ponsel saya.
  • Nyaman dimata saat digunakan untuk melakukan konsumsi media.
  • Ketika saya membawa ponsel saya yang dalam satu ekosistem iCloud, saya tidak perlu merogoh ponsel saya dalam tas untuk mengaktifkan Personal Hotspot, sangat membantu ketika saya memerlukan koneksi internet, khususnya untuk mengakses Cloud Storage.

Jadi jelas saya membutuhkan perangkat yang memiliki kelebihan yang saya sukai dan mampu memenuhi kualitas yang dapat menutup kekecewaan saya.

Disinilah hadir tablet untuk mengisi, saya tidak perlu sebut tipenya karena nanti saya disebut bragging, saya menggunakan tablet ini dengan kapabilitas optimal dan baterainya bertahan seharian penuh. Digunakan sebagai pengganti laptop menjadi cukup nyaman, dibawa kemana-mana lebih nyaman, ketika saya membutuhkan digunakan sebagai pengganti laptop saya cukup sambungkan ke Keyboard, ketika saya membutuhkan sebagai tablet untuk melakukan penulisan dengan tulisan tangan, saya juga mudah melakukannya, kamera depan sudah bukan sekedar 720P lagi, bahkan kameranya sudah memiliki fitur untuk tracking posisi saya, memiliki microphone yang bagus, ketika saya mau copy dari perangkat lain untuk dipaste di tablet ini ya ngga perlu pengiriman via Whatsapp Web/Onedrive/email/dsb, dst nya untuk hal-hal yang saya sukai.

Bagaimana untuk hal yang tidak saya sukai lainnya? Sudah touchscreen dan bahkan memiliki pen input yang akurat, layar bagus dan portabel,  mesin nya adem walau tidak memiliki kipas, yang tidak saya sukai cuma tersisa satu…. mahal.

Tapi ya bila dibandingkan dengan Laptop Ultrabook yang saya pinjam diatas, harganya setara, ingat Laptop Ultrabook yang saya integrasikan dengan ekosistem yang ada diatas itu adalah laptop pinjaman, dan jadilah saya membeli tablet dengan pilihan penyimpanan internal yang paling kecil, keyboard, dan pen kawean, dapatnya agak sedikit dibawah dari Laptop Ultrabook pinjaman yang saat itu sudah saya kembalikan.

Dan setelah 2 minggu pemakaian, sebagai waktu yang cukup untuk melakukan pekerjaan, Tablet ini menggantikan seluruh pekerjaan yang sebelumnya saya gunakan dengan AIO Kantor dan Ultrabook Kantor, saya menggunakan AIO Kantor dan Ultrabook Kantor hanya untuk keperluan yang memerlukan kebutuhan khusus yang membutuhkan layar yang lebih besar.

Sisanya? 100 persen pekerjaan saya dapat digantikan oleh Tablet yang telah dilengkapi Keyboard dan Pencil sebagai input. Bisa dibilang selama 2 minggu performa kerja saya tidak menurun dan dapat dilaksanakan seperti biasa tanpa menggunakan AIO dan Laptop Ultrabook milik kantor.

Workflow saya memang cenderung biasa-biasa saja, sebagai pekerja kantoran yang sesekali membuat video tanpa diedit dan hanya broadcast saja, kemudian membuat podcast, kegiatan yang saya lakukan dapat diselesaikan dengan baik menggunakan tablet ini, bahkan lebih cepat karena waktu responsif perangkat ini lebih singkat, bisa dibilang hardware nya yang diklaim oleh produsennya desktop class memang benar-benar terbukti, sama sekali tidak ada lemot, kesulitan multitasking? saya tidak membahas siapa duluan dan siapa meniru siapa? tapi konsep multitasking nya saat ini sudah ditiru mirip hingga dock nya dengan Windows 11, jadi bagi saya penggunaannya tidak terlalu rumit.

Yang menarik adalah ketika saya menggunakan ponsel saya untuk menerima link zoom, dulu saya punya pilihan memforward pesan tersebut untuk dapat diakses melalui komputer, saat ini saya cukup hold pesan sampai muncul pilihan copy di link tersebut, lalu saya paste di tablet ini untuk memperoleh link dan membukanya di tablet saya. Demikian juga ketika saya copy gambar dari ponsel saya dapat paste ke tablet saya dan sebaliknya, fitur ini juga berfungsi di Mac dan sebaliknya selama sudah terintegrasi dalam ekosistem iCloud dengan akun yang sama.

Memang ada kalanya saya menggunakan AIO untuk mengolah informasi dan bekerja dengan layar yang lebih besar, namun membawa Ultrabook Kantor yang relatif lebih berat dibandingkan dengan Tablet sudah tidak pernah saya lakukan karena dibawa pun percuma, baterenya cuma tahan 2-3 jam saja sedangkan tablet ini digunakan mengetik selama 4 jam nonstop paling hanya berkurang 10%.

Bonusnya saya juga memiliki Lidar Scanner yang dapat digunakan untuk membuat denah dengan melakukan scanning menggunakan sensor yang tersedia secara built in, kamera depannya jelas kece banget bahkan bisa autotracking wajah sebagaimana yang saya sudah sebutkan sebelumnya. Kekurangannya menurut saya ya mahal, walau perangkat yang saya beli tahun lalu sudah balik modal dari hasil pemanfaatan sertifikat hasil pelatihan yang saya lakukan tahun lalu, entah butuh berapa lama untuk pulih dan balik modal dengan perangkat baru yang saya beli ini.

Perangkat ini mahal, tapi meningkatkan produktifitas saya karena menghilangkan waktu tunggu karena terintegrasinya dalam ekosistem yang sudah terbentuk dari perangkat milik saya lainnya, selain itu juga stabil dari sisi OS, tidak terjadi slowdown selama menggunakan aplikasi yang saya gunakan, disisi lain bila saya melakukan hal yang serupa di PC baik AIO maupun Ultrabook, ampun-ampun lemot nya ketika sudah terkumpul sampah-sampah digital dalam cache nya, permasalahannya adalah untuk balik modal kayaknya butuh 1-2 tahun deh, untungnya produk dengan brand ini memang masa penggunaannya bisa diatas 5 tahun, lihat saja ponsel saya yang usianya lebih tua dari anak saya.

Jadi, tidak menggunakan laptop untuk bekerja apakah bisa bagi saya yang memang bergantung pada laptop dan tetap kompatibel dengan ekosistem yang sudah terbentuk serta bekerja dengan perangkat stationary saya ketika saya perlukan? Jawabannya bisa, bahkan fitur yang kurang itu didapatkan dalam perangkat baru saya ini, kekurangannya cuma satu, mahal, tapi dari panjang artikel ini yang menjabarkan kecerewetan saya yang banyak maunya, ya wajar dong mahal, masak ya minta murah untuk dilayani dengan komplit?

Butuh berapa lama untuk memutuskan membeli? ketika saya sudah mulai muncul kebutuhan, saya melakukan riset kecil-kecilan menggunakan beberapa media kurang lebih 2 bulan, alhasil saya tidak menyesal. Ya setidaknya hari ini ngelakukan kerjaan di weekend menggunakan perangkat ini pada tahap persiapan dan pelaksanaannya sudah ngembalikan kurang lebih 10% biaya perolehannya.

Kesimpulan? dengan workflow yang saya jabarkan tadi, penting bagi saya untuk memiliki perangkat yang diidentifikasi kebutuhannya untuk memenuhi kebutuhan saya sesuai workflow saya, tidak sekedar menggantikan laptop karena kesengsem brand semata, namun dapat terintegrasi dengan baik dan menghasilkan peningkatan produktifitas, jadi? tidak menggunakan laptop untuk bekerja ya bisa saja saya lakukan saat ini tanpa mengurangi produktifitas dan malah meningkatkannya, efek samping selain tas saya lebih ringan juga menjadikan dompet saya sekarang lebih ringan…. hahahaha……

 

Sebelumnya Permendagri 27 tahun 2021 tentang Pedoman Penyusunan Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2022
Selanjutnya Reformasi Birokrasi dan Pencatatan Kinerja

Cek Juga

hukum internasional

Seri Hukum Internasional #14 : Yuridiksi International Court of Justice (ICJ) / Mahkamah Internasional (Terakhir)

Mahkamah Internasional atau dikenal dengan the International Court of Justice (ICJ) merupakan salah satu lembaga ...

Punya pendapat terkait artikel ini? mohon berkenan berdiskusi, terima kasih

Open chat
1
Hubungi saya
Halo, apa yang bisa saya bantu?
%d blogger menyukai ini: