Spiderman (2002)
© 2002 Columbia Pictures Industries, Inc. All Rights Reserved. | MARVEL and all related character names: © & ™ 2018 MARVEL.

Spiderman (2002)

Film garapan sutradara Sam Raini yang diperankan oleh Tobey Maguire sebagai Peter Parker dan alter ego Super Hero Laba-laba Spider-Man ini dipandang salah satu film Superhero pertama era milenium baru tahun 2000an yang berhasil membawa ruh dari buku komik ke layar lebar dengan sukses, Super Hero Marvel yang hingga saat ini lisensi nya masih dimiliki Sony Pictures sehingga tidak bisa tayang di Layanan Streaming milik perusahaan Induk Marvel (Disney+) ini relatif sukses dan disusul dengan kesuksesan sekuelnya yang lebih menarik di Spider-Man 2 namun mengalami penurunan dengan penampilan “emo” Peter Parker di Spider-Man 3 sehingga hiatus dan sempat di reboot dengan The Amazing Spider-Man dan The Amazing Spider-Man 2 yang protagonisnya diperankan oleh Andrew Garfield.

Resensi ini tidak akan membahas reboot berikutnya yang sangat sukses yang diperankan oleh Tom Holand sebagai Protagonis dalam Spider-Man Homecoming dan Spider-Man Far From Home yang memang relatif lebih sukses dibandingkan pendahulunya karena telah masuk dalam semesta Marvel Cinematic Universe (MCU), walau dengan permasalahan lisensinya menjadi salah satu film dalam semesta MCU yang tidak tayang dalam Disney+ selain The Incredible Hulk yang diperankan Edward Norton.

Spider-Man versi 2002 ini masih dianggap sebagai seri terbaik dalam film adaptasi buku komik, betapa tidak ditengah kegagalan film adaptasi dari buku komik yang tidak mencerminkan ruh dalam buku komik nya, film ini hadir dengan efek spesial yang masih relatif nyaman dilihat bahkan untuk ukuran 2020, tidak sekedar menceritakan antara kebaikan dan kejahatan secara hitam dan putih, film ini memberikan latar belakang pengembangan cerita dari Peter Parker yang tidak sengaja tersengat laba-laba radio-aktif sehingga bermutasi.

Menyadari kekuatan baru nya yang di dorong dengan keinginan untuk kepentingan pribadi namun membawa musibah atas meninggalnya orang yang disayangi, Peter Parker bertransformasi dari Human-Spider menjadi Spider-Man yang memang berdedikasi dengan ucapan mendiang paman Ben. Demikian juga dengan antagonis yang sebenarnya terpaksa dan menjadi penjahat karena terdesak, atas keputusan untuk riset dan desakan dari mitra usaha maka Norman Osborn mengambil risiko melakukan percobaan untuk menyelamatkan perusahaannya agar tidak diputus kontrak oleh Pemerintah dan tidak sengaja menjelma menjadi Green Goblin, musuh bebuyutan dari Spider-Man.

Awalnya Norman tidak menyadari adanya disosiatif kepribadian ganda ini, namun beban pekerjaan dan desakan untuk di “tendang” dari perusahaan yang dibangunnya semakin mengeluarkan dan menguatkan kepribadian tersembunyi yang jahat yaitu alter ego Green Goblin. Sekilas tidak ada perbedaan dari asal-usul keduanya, baik Protagonis maupun Antagonis merupakan manusia super yang memiliki kekuatan karena sebuah ketidaksengajaan, namun penerapan dan pemanfaatannya berbeda karena pilihan yang berbeda.

Pengguna layanan Netflix masih dapat menemui film ini saat resensi ini ditulis (25 Desember 2020), saya pribadi menghabiskan liburan untuk tetap di rumah saja untuk nonton film sebagai sarana refreshing, banyak pelajaran yang bisa dipelajari dari film ini, yaitu :

  • Protagonis menggunakan kekuatan (power) di awal dengan keliru, sekilas apa yang dilakukan tidak berdampak buruk secara langsung saat melakukan pembiaran yang memuaskan sesaat, namun ternyata berakibat fatal dengan meninggalnya tokoh “Uncle Ben”;
  • Antagonis menggunakan kekuatan (power) dengan keliru sejak awal, tidak kuasa melawan dan menggunakan untuk kejahatan, pada akhirnya berakibat dengan meninggalnya dirinya sendiri, tidak ada penyalahgunaan kekuasaan (power) yang berujung pada hasil baik;
  • Spider-Man di awal dianggap sebagai penjahat dan tidak dipercaya, namun tidak menyerah dengan keadaan dan terus berbuat baik tanpa memperdulikan pendapat orang lain, walau berujung pada penderitaan, sebuah pengorbanan dan kepahlawanan sejati;
  • Walau Spider-Man digoda dengan kekuasaan dan diajak untuk bergabung menyatukan kekuatan oleh Antagonis, Spder-Man menolak hal tersebut karena tidak mau melanggar prinsip dan nilai-nilai yang dianutnya;dan
  • Peter Parker bersahabat dengan Harry Osborn, Putra dari Norman Osborn yang sangat berkuasa, terdapat adegan untuk memotong “kompas” bahwa dengan telepon dari Normam Osborn, Peter Parker bisa mendapatkan pekerjaan dengan mudah, namun Peter Parker menolak dan mengatakan dia ingin mandiri dengan upayanya sendiri.

Ada banyak pesan moral yang baik dari film ini, menjadikan versi Spider-Man ini menjadi salah satu yang dapat dipertimbangkan untuk mengisi liburan anda.

Demikian disampaikan, tetap semangat, tetap sehat, tetap di rumah saja, tetap bekerja keras dan bersantai lebih keras lagi, dan salam santuy!

© 2002 Columbia Pictures Industries, Inc. All Rights Reserved. | MARVEL and all related character names: © & ™ 2018 MARVEL.

Sebelumnya Vendor Management System (VMS) Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah
Selanjutnya Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

Cek Juga

Zombieland Double Tap dan Identifikasi sebagai Sarana-Prasarana pendukung Penunjang Keputusan dan Keberhasilan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

Zombieland Doubletap Dini hari minggu kemarin pada tanggal 14 Juni 2020 saya sebagai kaum rebahan ...

Punya pendapat terkait artikel ini? mohon berkenan berdiskusi, terima kasih

Open chat
1
Hubungi saya
Halo, apa yang bisa saya bantu?
%d blogger menyukai ini: