Harga termurah adalah sebuah angka.
Sedangkan value for money adalah sebuah hubungan antara uang yang dikeluarkan dengan manfaat yang diperoleh.
Bayangkan terdapat dua produk untuk kebutuhan yang sama.
Produk pertama memiliki harga pembelian lebih rendah, tetapi membutuhkan pemeliharaan lebih sering, konsumsi energi lebih tinggi, ketersediaan suku cadangnya terbatas, dan secara realistis mempunyai umur pemakaian lebih pendek.
Produk kedua mempunyai harga awal sedikit lebih tinggi, tetapi lebih hemat energi, mudah dipelihara, suku cadangnya tersedia, memiliki layanan purna jual yang lebih baik, dan dapat digunakan lebih lama.
Jika hanya membandingkan harga pada saat transaksi, produk pertama terlihat lebih ekonomis.
Tetapi jika dilihat dari keseluruhan manfaat dan biaya selama penggunaannya, hasilnya mungkin berbeda.
Tentu saja ilustrasi tersebut tidak berarti pemerintah bebas membeli produk yang lebih mahal hanya karena dianggap “lebih bagus”.
Pertimbangan tersebut harus memiliki hubungan dengan kebutuhan, dituangkan sejak tahapan perencanaan dan spesifikasi, menggunakan parameter yang objektif, memperhatikan kewajaran harga, dan apabila digunakan dalam proses pemilihan harus diterjemahkan ke dalam metode serta kriteria evaluasi yang diperbolehkan.
Dengan kata lain:
value for money bukan izin untuk membeli mahal.
Tetapi pada saat yang sama:
efisiensi juga bukan kewajiban untuk selalu membeli yang paling murah tanpa mempertimbangkan manfaatnya.
Value for Money dan Harga Termurah

bentuk kontrak