Beberapa waktu lalu saya membuat sebuah infografis mengenai bagaimana angin topan terbentuk, terinspirasi ketika melihat kejadian nyata disekitar saya, menggunakan Gen-AI hasilnya sebagai berikut :
Entah mengapa, melihat ilustrasi tentang udara hangat yang naik, membentuk awan, kemudian berkembang menjadi pusaran besar, ingatan saya justru kembali pada sebuah cerita lama dari Doraemon.
Namanya Fūko.
Bagi yang pernah membaca kisah ini, mungkin masih mengingatnya. Fūko bukan manusia, bukan robot, dan bukan pula hewan peliharaan biasa.
Ia adalah anak angin topan yang dipelihara Nobita.
Dan semakin dipikirkan, kisah sederhana yang terbit lebih dari setengah abad lalu itu ternyata punya hubungan yang menarik dengan cara kita memahami bencana hari ini.
Seekor “Angin Topan” Bernama Fūko
Dalam cerita Taifū no Fūko atau Typhoon Fūko, Nobita ingin memelihara sesuatu sejak dari telur.
Doraemon kemudian memberinya sebuah telur yang ternyata bukan telur hewan biasa. Telur tersebut merupakan “telur topan” yang dibuat oleh ilmuwan meteorologi masa depan untuk keperluan eksperimen.
Dari situlah lahir pusaran angin kecil yang kemudian diberi nama Fūko.
Nobita memperlakukannya seperti hewan peliharaan. Ia memberinya makan, mengajaknya bermain, dan menyayanginya.
Versi resmi kisah tersebut memang menggambarkan Fūko sebagai “anak topan” yang dipelihara Nobita dan perlahan menjadi semakin kuat. (TV Asahi)
Yang menarik adalah makanannya.
Dalam manga, dikisahkan bahwa makanan Fūko adalah udara panas. Bahkan Nobita memberinya panas dari nyala lilin agar Fūko bertumbuh. (note(ノート))
Sebagai anak-anak, kita mungkin hanya melihatnya sebagai bagian dari kelucuan cerita.
Tetapi setelah memahami bagaimana topan sebenarnya berkembang, bagian kecil itu menjadi jauh lebih menarik.
Apakah Topan Benar-Benar “Memakan” Udara Panas?
Secara ilmiah tentu saja topan tidak memakan udara panas seperti Fūko memakan panas dari lilin.
Namun gagasan dasarnya ternyata tidak sepenuhnya jauh dari kenyataan.
Japan Meteorological Agency menjelaskan bahwa topan berkembang di atas lautan tropis yang hangat. Air laut yang hangat menghasilkan banyak uap air. Uap tersebut naik, kemudian mengalami kondensasi membentuk awan.
Dalam proses kondensasi itulah panas dilepaskan ke atmosfer.
Energi tersebut membantu sistem tekanan rendah berkembang semakin kuat dan kecepatan anginnya meningkat. (Japan Meteorological Agency)
Jadi apabila ingin menyederhanakannya:
Topan membutuhkan laut yang hangat dan pasokan uap air sebagai sumber energinya.
Bahkan Japan Meteorological Agency menjelaskan bahwa ketika sebuah topan kehilangan suplai uap air—misalnya setelah bergerak di atas daratan—topan cenderung melemah karena salah satu sumber energinya berkurang. (Japan Meteorological Agency)
Dengan kata lain, kalimat sederhana dalam Doraemon bahwa:
“makanan topan adalah udara panas”
memang bukan penjelasan meteorologi yang presisi.
Tetapi untuk sebuah manga anak-anak, gagasan tersebut menarik karena membawa pembacanya sangat dekat kepada sebuah prinsip penting: topan membutuhkan energi dari lingkungan yang hangat untuk berkembang.
Cerita Fūko Terbit pada 1974
Hal lain yang membuat saya penasaran adalah usia cerita ini.
Berdasarkan arsip resmi Shogakukan, Taifū no Fūko dimuat dalam majalah Shōgaku Ninensei edisi September 1974, dan kemudian menjadi salah satu cerita dalam Doraemon volume 6. (小学館)
Artinya, anak-anak Jepang sudah membaca cerita tentang sebuah topan kecil, pertumbuhannya, kekuatannya, dan potensi bahayanya lebih dari lima dekade lalu.
Tentu kita tidak perlu menyimpulkan bahwa Fujiko F. Fujio sedang menulis buku teks meteorologi.
Doraemon tetap sebuah karya fiksi.
Tetapi justru di situlah menariknya.
Ilmu pengetahuan tidak disampaikan melalui grafik rumit atau istilah meteorologi yang panjang.
Ia hadir dalam bentuk sesuatu yang dapat disukai anak-anak:
seekor “peliharaan” kecil bernama Fūko.
Kecil, Lucu, Lalu Menjadi Kuat
Ada satu metafora yang menurut saya sangat kuat dari kisah Fūko.
Ketika masih kecil, Fūko lucu.
Nobita bisa bermain dengannya.
Tetapi semakin besar Fūko, semakin kuat pula anginnya. Ia mulai membuat kekacauan dan semakin sulit dikendalikan.
Itu mirip dengan karakter banyak fenomena alam.
Sesuatu yang pada tahap awal terlihat kecil belum tentu akan tetap kecil.
Awan yang kita lihat di cakrawala dapat berkembang menjadi sistem cuaca yang besar.
Hujan yang awalnya biasa dapat berubah menjadi hujan ekstrem.
Aliran air yang awalnya hanya beberapa sentimeter dapat berkembang menjadi banjir.
Dan sebuah gangguan tropis di tengah lautan dapat berkembang menjadi topan yang membawa angin kencang, gelombang tinggi, hujan lebat, hingga storm surge.
Karena itu dalam kebencanaan, salah satu kemampuan terpenting bukan hanya bereaksi ketika bencana sudah besar, melainkan mengenali tanda ketika sebuah ancaman masih berada pada tahap awal.
Dari Informasi Menjadi Ingatan
Di sinilah saya melihat kekuatan storytelling dalam edukasi kebencanaan.
Kita dapat menjelaskan proses terbentuknya topan dengan istilah:
evaporasi, tekanan udara, konveksi, kondensasi, panas laten, sirkulasi atmosfer, dan seterusnya.
Semua benar.
Tetapi belum tentu semuanya diingat.
Sebaliknya, katakan kepada seorang anak:
“Ada topan kecil bernama Fūko. Ia mendapatkan energi dari udara yang panas/hangat. Semakin besar, anginnya semakin kuat.”
Kemungkinan besar cerita itu jauh lebih mudah melekat.
Bukan karena fakta ilmiahnya harus disederhanakan sampai kehilangan akurasi.
Melainkan karena manusia tidak hanya mengingat informasi. Kita juga mengingat cerita.
Informasi memberi kita pengetahuan.
Cerita memberi informasi itu sebuah tempat dalam ingatan.
Literasi Kebencanaan Tidak Harus Selalu Menakutkan
Sering kali edukasi kebencanaan dibangun melalui gambar kehancuran.
Rumah roboh.
Banjir besar.
Gempa bumi.
Korban.
Semua itu penting untuk menunjukkan tingkat risiko.
Namun kita juga membutuhkan pendekatan lain, khususnya ketika berbicara kepada anak-anak.
Kita dapat mengajarkan bencana melalui rasa ingin tahu.
Mengapa angin bisa berputar?
Mengapa topan melemah ketika masuk daratan?
Mengapa laut yang hangat dapat membuat badai berkembang?
Mengapa kita harus memperhatikan peringatan cuaca meskipun di tempat kita belum turun hujan?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu mengubah edukasi kebencanaan dari sekadar:
“Takutlah karena bencana berbahaya.”
menjadi:
“Mari memahami alam supaya kita tahu apa yang harus dilakukan.”
Menurut saya, pendekatan kedua jauh lebih kuat untuk membangun kesiapsiagaan dalam jangka panjang.
Dari Fūko untuk Kita
Mungkin Fujiko F. Fujio hanya ingin membuat sebuah cerita yang menarik dan menyentuh tentang Nobita dan seekor topan kecil.
Tetapi puluhan tahun kemudian, Fūko masih dapat mengingatkan kita pada satu hal penting:
pengetahuan yang rumit bisa menjadi sederhana ketika kita menemukan cara yang tepat untuk menceritakannya.
Di negara seperti Indonesia yang hidup berdampingan dengan gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor, cuaca ekstrem, kebakaran hutan, erupsi gunung api, dan berbagai ancaman lainnya, tantangan kita sebenarnya bukan hanya menghasilkan semakin banyak informasi kebencanaan.
Tantangannya adalah:
bagaimana membuat informasi itu dipahami, diingat, lalu berubah menjadi perilaku.
Infografis penting.
Data penting.
Peta risiko penting.
Teknologi peringatan dini juga sangat penting.
Tetapi jangan meremehkan kekuatan sebuah cerita.
Sebab boleh jadi seseorang lupa diagram tentang bagaimana topan terbentuk.
Namun puluhan tahun kemudian, ia masih mengingat…
sebuah pusaran angin kecil bernama Fūko yang makanannya adalah udara panas.
Dan dari ingatan sederhana itulah rasa ingin tahu terhadap ilmu pengetahuan dapat kembali dimulai.
Penutup
Bencana alam memang tidak dapat selalu kita cegah.
Namun risiko dapat kita pahami, kesiapsiagaan dapat kita bangun, dan pengetahuan dapat kita wariskan.
Mungkin salah satu caranya sesederhana yang dilakukan Doraemon:
buat ilmu pengetahuan cukup sederhana untuk dipahami, cukup menarik untuk diceritakan, dan cukup bermakna untuk terus diingat.
Referensi
Tulisan ini menggunakan rujukan informasi dari Japan Meteorological Agency mengenai proses pembentukan dan perkembangan topan, serta arsip Shogakukan, TV Asahi, dan Doraemon World mengenai cerita Taifū no Fūko. (Japan Meteorological Agency)
